Home > HEADLINE > Konsep Jogo Tonggo Mulai Dilakukan Di Wilayah Tegal

Konsep Jogo Tonggo Mulai Dilakukan Di Wilayah Tegal

TEGAL[Kampusnesia] – Konsep Jogo Tonggo yang dicetuskan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mulai diterapkan oleh masyarakat di tingkat Rukun Warga. Konsep itu dibuat sebagai upaya untuk saling membantu masyarakat di tengah pandemi Covid-19.

Di Kota Tegal, salah satu RW yang berada di Perumahan SUPM RT 6/3 Kelurahan Tegalsari Kecamatan Tegal Barat Kota Tegal telah menerapkan konsep itu. Sambil bergotong royong, warga yang ada di kompleks tersebut membuat apotik hidup dan warung hidup di lahan kosong perumahan mereka.

Lahan itu ditanami aneka sayuran, empon-empon dan bumbu masak lainnya. Selain itu, ada pula ember-ember berjajar berisi ikan lele dengan bagian atas ditanami kangkung dan sawi.

“Jadi kami gunakan tempat ini sebagai tempat menanam kebutuhan sehari-hari. Kalau ada masyarakat yang membutuhkan, diambilkan dari sini,” ujar Ketua RW, Edi Warsito.

Selain apotik dan warung hidup, di lokasi itu juga telah dibuat lumbung pangan. Lumbung tersebut digunakan untuk menampung bantuan dari luar atau bantuan dari jimpitan masyarakat.

Karena masyarakatnya mayoritas mampu, beberapa bantuan juga diserahkan kepada pihak luar. Para guru ngaji dan masyarakat yang terdampak di luar RW juga mendapat perhatian.

“Lumbung pangan kami gunakan untuk menampung bantuan baik dari luar atau dari internal warga. Alhamdulillah jimpitan warga mampu masih berjalan dan kami gunakan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan,” tutur Witoyo pengurus lumbung pangan itu.

Sementara itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang mendengar kabar itu langsung tertarik untuk meninjaunya. Kamis (7/5) pagi, Ganjar menyempatkan waktu menengok aktivitas warga di lokasi itu.

“Saya senang, meskipun di perkotaan aktivitas masyarakat untuk gotong royong antar masyarakat masih berjalan. Ada apotik hidupnya, ada warung hidupnya yang berisi aneka sayuran, lele dan macem-macem yang bisa untuk dikonsumsi sendiri,” ujarnya.

Apotik dan warung hidup menurutnya menjadi salah satu cara bertahan di tengah pandemi. Apalagi, di lokasi itu ada lumbung pangan dan mengaktifkan jimpitan masyarakat.

“Ini sebenarnya bagian dari kita untuk mencukupi kebutuhan bagi mereka yang kekurangan atau perlu makan. Ini spirit gotong royong, sehingga tidak hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah,” tuturnya.

Dia meminta daerah lain mencontoh kegiatan yang dilakukan di lokasi itu. Bahkan juga menitipkan kepada masyarakat untuk memperhatikan ibu hamil dan menyusui.

“Tolong saya titip ibu hamil dan menyusui diperhatikan. Jangan sampai mereka gizinya kurang sehingga generasi kita nantinya bisa stunting,” ujarnya. (rs)

* Artikel ini telah dibaca 49 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *