Home > HEADLINE > Puasa Menjadikan Tubuh Manusia Adaptif Terhadap Perubahan

Puasa Menjadikan Tubuh Manusia Adaptif Terhadap Perubahan

SEMARANG[Kampusnesia] –  Secara empirik menjalankan ibadah puasa itu memang akan mengurangi tenaga karena terhentinya asupan di sepanjang hari. Namun kondisi itu justru menjadikan tubuh manusia lebih adaptif terhadap berbagai perubahan alami.

Sekretaris Komisi Ukhuwah Majlis Ulama Indonesia Jawa Tengah (MUI Jateng) KH Drs Taslim Syahlan M Si mengatakan saat berpuasa faktanya memang menjadikan tubuh ini semakin berkurang tenaganya,  karena asupan selama satu hari berhenti total.

“Akan tetapi ketika berpuasa, justru  tubuh manusia akan menjadi sangat adaptif, saat tubuh  merespon kondisi lapar terjadi proses alami yang menyehatkan, “ ujar kyai Taslim di dalam acara Ngabuburit Kopdar Online yang diselenggarakan Gojek Semarang di Semarang, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, puasa sesungguhnya bukan tujuan. Tapi merupakan “transmisi” untuk melatih daya tahan fisik dan mental. Secara fisik akan ditempa oleh laku puasa selama satu bulan sekaligus memantik daya tahan tubuh manusia.

Sekedar contoh, lanjutnya, ketika kondisi tubuh lapar maka cadangan glukose yang ada di hati dan otot akan habis. Justru momentum inilah tubuh mengabil lemak sebagai “bahan bakar” untuk mendapatkan sumber tenaga.

Dia menambahkan dengan demikia proses detokaifikasi alamiah terjadi dalam tubuh. Racun-racun dalam tubuh manusia akan keluar berbarengan dengan  terbakarnya lemak dalam tubuh. Akhirnya, fisik menjadi kuat dan sehat.

Inilah, tutur kyai Taslim, salah satu fakta empirik dari makna sabda Nabi saw “shumu tasihhu” yang  artinya berpuasalah agar engkau menjadi sehat. Secara psikis, berpuasa akan menjadi pemantik bagi manusia dalam “menahan diri” dari amarah, nafsu dan sejenisnya.

Efek “lapar”  itu, akan memicu prilaku manusia menjadi halus, lembut dan tidak gampang meledak-ledak. Ini juga merupakan perubahan mental yang cukup revolusioner.

“Kombinasi fisik dan psikis yang sehat tentu akan menjelma menjadi pribadi yang kuat, tangguh, tahan uji, lebih mudah dan memahami takdir Allah swt. Khususnya pada masa pandemi global ini,” tuturnya.

Efek puasa kemudian melahirkan pribadi-pribadi yang ringan berbagi dengan sesama. Daya tahan yang beraifat individual kemudian menjelma menjadi daya tahan kehidupan sosial. Solidaritas dengan sendirinya akan menguat. Pesaudaraan dengan sesama semakin rekat.

Konfigurasi demikian ini, lanjutnya, dapat dijadikan modal sosial dalam mewujudkan kerukunan semua umat manusia. Dalam konteks keagamaan maka sudah barang pasti kerukunan umat beragama akan terwujud. (smh)

* Artikel ini telah dibaca 11 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *