Home > EDITOR'S CHOICE > Upaya Mendisiplinkan Masyarakat, Telaah Singkat

Upaya Mendisiplinkan Masyarakat, Telaah Singkat

                                                                Oleh: Gunawan Witjaksana

Pelaksanaan new normal, tampaknya semakin sulit ditunda- tunda lagi. Beberapa wilayah bahkan sudah menerapkannya dan beberapa daerah lain ada yang menyebutnya dengan masa transisi atau pelonggaran terbatas. Namun, hakekatnya sebenarnya secara perlahan mulai menuju ke penerapan new normal.

Sayangnya dengan makin dimasifkannya test untuk menemukan spesimen baru, pelonjakan penambahan spesimen yang positif Covid-19 masih tinggi. Rata- rata penambahannya masih di atas seribu orang per hari. Meski tingkat kesembuhannya juga ikut meningkat, namun tingginya jumlah penambahan yang positif cukup besar.

Yang lebih memprihatinkan, bahkan disampaikan Presiden dan Gubernur Jawa Timur, tingkat kedisiplinan masyarakat masih sangat rendah, utamanya dalam memakai masker dan menjaga jarak pisik. Bahkan ada anggota masyarakat yang ketika diwawancarai ( Metro TV, 29 Juni 2020) mereka mengatakan mengapa harus memakai masker? Kan menurut informasi kondisi sudah normal?.

Salah Komunikasi

Ternyata, mengapa di Jawa Timur 70 persen lebih orang tidak menggunakan masker dan menjaga jarak, karena mereka mengira kondisi sudah normal. Dari sisi komunikasi, terjadinya miscommunication ini terletak pada kata new normal, yang mereka konotasikan sebagai normal.

Bisa juga ini karena adanya korupsi informasi dalam persepsi masyarakat, sehingga kata new, seolah menjadi hilang dan yang ada dalam persepsinya adalah normal seperti biasanya.

Padahal bila dicermati new normal itu justru menunjukkan ketidaknormalan, sehingga bila ke luar rumah untuk keperluan penting, orang perlu mengikuti protokol kesehatan yang setidaknya harus menggunakan masker, menjaga jarak pisik, serta serta menjaga kebersihan setidaknya dengan sering mencuci tangan.

Celakanya, kesalahmaknaan new normal menjadi normal itu lebih kuat terngiang di benak masyarakat, sehingga informasi lain dianggap tidak penting, bahkan terkait dengan mengerikannya dampak Covid-19 , resiko kematiannya, beserta dengan tingginya biaya pengobatan bila berobat mandiri. Mungkin mereka beranggapan bahwa kematian adalah takdir, selain juga belum nampak nyata di lingkungan mereka, selain yang mereka saksikan di media.

Demikian juga mungkin dengan biaya, karena mereka beranggapan akan dibiayai pemerintah, karena ini kan bencana nasional non alam.

Kepentingan dan manfaat

Karena itu, mungkin perlu perubahan isi pesan serta strategi komunikasinya kepada masyarakat.

Metode komunikasi persuasif dengan fear arrounsing (membuat masyarakat khawatir) mungkin akan lebih mengena. Dengan demikian, mengganti istilah new normal misalnya dengan istilah gawat atau darurat, atau istilah lain akan lebih tepat.

Dengan metode itu masyarakat meski sudah tidak dibatasi selain protokol kesehatan, sekaligus mereka akan selalu mengaitkan protokol kesehatan tersebut dengan kegawatan bagi dirinya, keluarganya, serta lingkungannya. Perasaan khawatir itu akan lebih efektif mendisiplinkan mereka, dibanding istilah new normal yang mereka konotasikan normal, dan berdampak mereka abai.

Secara sosiologis disebutkan orang akan berpartisipasi aktif manakala tahu manfaatnya bagi mereka, atau sebaliknya faham akan bahayanya  bila mereka abai.

Berlaku normal meski dengan pembatasan demi pulihnya kesehatan, ekonomi, serta berbagai sektor lainnya adalah penting. Semua orang sudah merasakan dampak krisis akibat pandemi Covid-19 yang terjadi setidaknya dalam tiga bulan terakhir.

Karena itu, partisipasi seluruh komponen secara bahu membahu merupakan keniscayaan, dan untuk itulah komunikasi disfungsional yang menyebabkan banyak kalangan salah makna harus segera diakhiri, sehingga pil pahit yang wujud sementaranya adalah rasa khawatir adalah pilihan yang harus diambil.

* Artikel ini telah dibaca 67 kali.
Gunawan Witjaksana
Dosen dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang. Pengamat komunikasi dan media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *