Home > EKONOMI & BISNIS > BI Memprediksikan Inflasi Jateng Bakal Melambat

BI Memprediksikan Inflasi Jateng Bakal Melambat

Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan BI Provinsi Jateng Iss Savitri Hafid

SEMARANG[Kampusnesia] – Bank Indonesia (BI) memprediksi inflasi di Jateng secara bulanan bakal melambat hingga menjelang akhir tahun ini, akibat kenaikan harga komositas makanan, minuman dan tembakau.

Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Iss Savitri Hafid mengatakan perlambatan laju inflasi diperkirakan masih disebabkan dari kelompok makanan, minuman dan tembakau.

Sedangkan risiko inflasi, lanjutnya, diperkirakan bersumber dari kelompok barang dan jasa perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Menurutnya, faktor utama penahan laju inflasi kelompok barang dan jasa ini di antaranya komoditas bawang merah yang saat ini tengah memasuki musim panen raya.

Selama Juli hingga September ini, tutur Iss Savitri Hafid, merupakan puncak musim panen komoduras bawang di wilayah Jateng, sehingga pasokan diperkirakan akan meningkat.

“Komoditas lain yang diperkirakan akan menahan laju inflasi di antaranya daging ayam ras dan telur ayam ras seiring dengan produksi yang kembali meningkat dan cenderung over supply ditengah keterbatasan daya beli masyarakat,” ujarnya dalam kterangan resmi, Selasa (15/9).

Dia menambahkan faktor risiko yang berpotensi mendorong tekanan inflasi diperkirakan bersumber dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.

“Sejumlah komoditas yang diperkirakan menjadi sumber peningkatan laju inflasi di antaranya emas perhiasan, seiring dengan tren peningkatan harga emas global akibat ketidakpastian pasar keuangan sehingga mendorong investor mengalihkan asetnya ke instrumen safe heaven, yaitu emas,” tuturnya.

Menyikapi hal tersebut, Tim Pengendali lnflasi Daerah (TPID) akan terus melakukan empat kunci pengendalian inflasi yaitu ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.

Sementara Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan pada Agustus 2020 Jateng kembali mencatat deflasi sebesar -0,03 (mtm), melanjutkan pelemahan laju inflasi Juli -0,09% (mtm).

Realisasi tersebut juga lebih rendah dibandingkan ratarata dalam lima tahun terakhir 0,01% (mtm). Dengan realisasi tersebut, secara tahunan inflasi Jateng sebesar 1,28% (yoy) juga lebih rendah dari nasional yang sebesar 1,32% (yoy).

Deflasi yang terjadi pada Agustus 2020 bersumber dari penurunan harga kelompok barang dan jasa makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok barang dan jasa tersebut memberikan kontribusi terbesar pada deflasi dengan mencatatkan penurunan indeks harga -0,96% (mtm).

Realisasi tersebut lebih dalam dari deflasi bulan lalu -0,66% (mtm). Sedangkan deflasi juga turut didorong oleh perlambatan laju inflasi pada kelompok barang dan jasa kesehatan (0,21%;mtm) dan kelompok barang dan jasa penyediaan makanan dan minuman (0,14%;mtm). (rs)

* Artikel ini telah dibaca 7 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *