Home > EDITOR'S CHOICE > Jangan Melupakan Sejarah

Jangan Melupakan Sejarah

Beberapa hari lalu di berbagai media heboh terkait pernyataan Mendikbud Nadim Makarim terkait akan dijadikannya mata pelajaran sejarah sebagai pilihan, bahkan yang lebih menghebohkan akan dihapus dari kurikulum.

Hari ini, Mendikbud meluruskan bahwa  berita tersebut tidak benar melalui berbagai media, dan memastikan mata pelajaran sejarah tidak akan dihilangkan.

Kabar yang menggembirakan tersebut sekaligus menepis kegalauan saya, karena dengan porsi pelajaran sejarah seperti sekarang ini saja, rasa- rasanya anak- anak lebih mengenal Satria Baja Hitam, Ultra Man, dan sejenisnya dibanding misalnya Pangeran Diponegoro, Cut Nya’ Din, serta para pahlawan lainnya.

Lalu pikiran saya melayang ke jaman saya SD, SMP, bahkan SMA jurusan Sosial kala itu menerima pelajaran sejarah lengkap mulai sejarah Jawa, misal Kerajaan Kalingga, dan lainnya. Sejarah Indonesia lengkap, bahkan Sejarah Dunia.

Tampaknya bekal pelajaran itulah yang selalu mengingatkan saya (dan saya yakin teman- teman sebaya saya) akan jasa para patriot bangsa, termasuk jaman kerajaan seperti Gajah Mada yang bercita- cita mempersatukan Nusantara, para pejuang kemerdekaan seperti P Diponegoro, Teuku Umar, Ki Hajar Dewantara, Tjokroaminoto, Soekarno, Hatta, Moh. Yamin, dan yang lainnya, dan dampak yang saya rasakan adalah rasa nasionalisme yang tidak bisa ditawar- tawar lagi.

Dengan janji Mendikbud yang tetap mempertahankan pelajaran sejarah, maka yang perlu kita renungkan adalah apa manfaat belajar sejarah tersebut, khususnya berkaitan dengan masa depan bangsa?.

Jasmerah

Kita lalu ingat apa yang disampaikan Presiden pertama kita Soekarno melalui kata Jasmerah, yang merupakan kependekan dari jangan sekali- sekali melupakan sejarah.

Dari sisi komunikasi belajar sejarah dari media, apakah buku, guru, rekaman dan yang lainnya, sebenarnya merupakan interaksi serta komunikasi pararasional baik dengan penulis buku ataupun para pelaku sejarah.

Melalui cara itu akan muncul perasaan ‘rumongso melu handarbeni’ baik kepada pelaku sejarah sekaligus tanah air, khususnya ketika kita membaca dan mengetahui peristiwa seperti  Budi Utomo, Sumpah Pemuda, hingga detik-detik proklamasi kemerdekaan, hingga clas- clas yang kita alami selanjutnya.

Dengan mempelajari sejarah yang berupa rangkaian fakta dan kebenaran, maka kita akan memiliki pengetahuan, berubah sikap serta perilaku kita sebagai anak bangsa yang kuat.

Selanjutnya belajar sejarah berkembangnya kerajaan mulai dari Kalingga, Majapahit , Sriwijaya, dan yang lainnya menyebabkan kita memiliki bekal serta berbagai filosofi seperti kegigihan, semangat, serta nasionalisme yang akhirnya kita akan menghargai para pendahulu kita.

Selain itu, dengan belajar sejarah kita tentu akan bangga menghargai negara serta bangsa sendiri, dan tentu tidak akan mudah terpengaruh oleh bangsa asing yang di balik kemanisan janjinya, apa pun, tetap saja menyembunyikan kepentingan negaranya masing- masing.

Akhirnya kegalauan kita menjadi hilang manakala Mendikbud berjanji akan tetap mempertahankan pelajaran sejarah, karena hanya dengan belajar dari sejarah itulah kita seolah ikut merasakan kembali kedekatan kita dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai dan banggakan.

* Artikel ini telah dibaca 98 kali.
Gunawan Witjaksana
Dosen dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang. Pengamat komunikasi dan media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *