Home > HEADLINE > Sertifikat Tanah Masjid Agung Semarang Diserahterimakan

Sertifikat Tanah Masjid Agung Semarang Diserahterimakan

SEMARANG[Kampusnesia] – Setelah menunggu beberapa tahun, akhirnya sertifikat tanah wakaf  Masjid Agung Semarang (MAS) yang dulu dikenal Masjid Besar Kauman Semarang diterbitkan BPN dan diserahterimakan kepada pengelola masjid itu.

Sertifikat tanah wakaf MAS itu diserahkan oleh Kepala Kantor Badan Pertanahan (BPN) Kota Semarang Ir Sigit Rachmawan Adhi ST MM dan diterima Drs H Ali Mufiz MPA mantan gubernur Jateng mewakili pengurus MAS usai shalat zuhur berjamaah, Kamis (24/9).

Serah terima sertifikat di MAS itu disaksikan Ketua Umum Yayasan Badan Pengelola MAS Ir KH Hammad Maksum (Gus Hammad), Ketua Takmir KH Hanief Ismail Lc, Camat Semarang Tengah Haris dan para pejabat BPN Kota Semarang.

Ali Mufiz selain mengucapkan terima kasih kepada BPN Semarang juga mengharapkan agar bersamaan dengan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-60 BPN ini, BPN Kota Semarang  juga mengulurkan bantuan untuk memperjelas status tanah masjid dan mushala di Kota Semarang.

“Masjid Agung Semarang ini memiliki tanah seluas 119 hektare lebih. Beberapa di antaranya ada yang ditempati wargat. Semoga BPN bisa membantu menelusuri tanah itu,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Badan Pertanahan (BPN) Kota Semarang Ir Sigit Rachmawan Adhi ST MM mengatakan sertifikat tanah wakaf adalah bangunan utama MAS seluas 5.054 m2.

“Selain sebagai bhakti warga, kegiatan ini dalam rangka HUT Ke-60 BPN. Mengenai kejelasan status tanah masjid dan mushala di Kota Semarang, diharapkan bisa diselesaikan dengan baik pada 2021 mendatang,” tuturnya.

Ketua Takmir Masjid Agung Semarang KH Hanief Ismil Lc menyampaikan penghargaan kepada Kepala BPN yang memberikan perhatian kepada masjid yang usianya lebih tua dari Kota Semarang itu.

“Masjid ini pernah mengalami kebakaran hebat sehingga hampir semua dokumen termasuk surat-surat berharga tidak tersisa,” ujarnya.

Menurut Gus Hammad, masjid yang berdiri kokoh di tengah hiruk pikuk aktivitas Pasar Induk Johar itu, memiliki kaitan erat dengan berdirinya Pemerintah Kabupaten Semarang (sekarang Kota Semarang).

“Tak hanya itu, masjid yang berdiri di Kelurahan Bangunharjo, Kecamatan Semarang Tengah ini, juga memiliki banyak catatan sejarah sebagai pusat penyebaran tauhid. Namun, tidak diketahui secara pasti sejak kapan Masjid Agung Semarang ini dibangun,” tuturnya.

Berdasarkan sejumlah catatan yang dipercaya kebenarannya, Masjid Agung Semarang didirikan pertama kali pada pertengahan abad XVI Masehi (1575 M) atau jauh sebelum masa penjajahan di bumi nusantara ini.

Namun, tutur Gus Hammad, masjid itu diakui justru lebih tua dari Kota Semarang. Pasalnya, cikal bakal terbentuknya Kota Semarang justru berawal dari masjid tersebut.

Dalam catatan sejarah Yayasan MAS atau MBS, masjid ini didirikan oleh Sunan Pandan Arang atau dikenal juga dengan sebutan Ki Ageng Pandan Arang. Bagi warga Semarang, mereka menyebutnya dengan nama Pandanaran. ‘

“Ulama ini merupakan seorang maulana dari negara Arab yang bernama asli Maulana Ibnu Abdul Salam.Oleh Sunan Kalijaga – lewat Sultan Hadiwijoyo (Pajang) – Sunan Pandan Arang ditunjuk untuk menggantikan kedudukan Syekh Siti Jenar. Sunan Pandan Arang ditugaskan untuk menyampaikan syiar Islam di daerah sebelah barat Kasultanan Bintoro Demak,” ujarnya.  (smh)

* Artikel ini telah dibaca 6 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *