Home > HEADLINE > Pemberitaan Insiden Teror Bom Berpotensi Munculkan Kegelisahan Masyarakat

Pemberitaan Insiden Teror Bom Berpotensi Munculkan Kegelisahan Masyarakat

SEMARANG [Kampusnesia] – Tingginya intensitas pemberitaan tentang kasus insiden peledakan bom di berbagai tempat oleh para pelaku tindak kejahatan teroris oleh media massa maupun media sosial berpotensi memunculkan kecemasan dan kegelisahan masyarakat.

Mantan Ketua Dewan Pers Stenly Yosep Adi Prasetyo mengatakan gencarnya pemberitaan   insiden bom itu, secara tidak sengaja bebetapa waktu lalu telah membangun narasi radikalisme dan menyasar di media massa maupun medsos yang dikonsumsi oleh madyarakat.

“Dulu, wartawan  berulang kali meliput insiden bom, begitu pula stasiun-stasiun televisi juga menyiarkan berulang kali, sehingga hal ini memunculkan kegelisahan dan kecemasan masyarakat,” ujar Stenly di Semarang, Selasa (27/10).

Stenly mengatakan hal itu dalam sarasehan Pelibatan Masyatakat tentang Literasi Informasi dalam rangka Pencegahan Terorisme melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah Bidang Media Massa, Hukum, dan Humas yang dikemas dengan Ngopi Coi: (Ngobrol Pintar Cara Orang Infonesia), di Hotel Santika Semarang, Selasa (27/10).

Menurutnya, saat ini  pola kegiatan mengonsumsi berita sangat minim sekali kegiatan pengecekan atau tabayun. Kalau media massa dapat dikawal Dewan Pers, sedangkan  media sosial susah mengontrolnya. Repotnya anak-anak milenial sekarang ini kiblatnya di media sosial.

Generasi muda sekarang, lanjutnya, memiliki kemampuan literasi digital yang luar biasa, namun mereka lemah di bidang hukum dan minim kemampuan dalam menangkal hoaks dan dampaknya.

Sementara itu, Kasi Pemulihan Korban Aksi Terorisme Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Muhammad Lutfi menuturkan penyebaran radikalisme di media baik media massa maupun medsos perlu diwaspadai karena keduanya akan dijadikan pola penyebaran faham radikalisme.

“Kalau 2010 ke belakang memang penyebarannya lewat media konvensional. Tapi sejak 2010 sampai sekarang, generasi milenial kebanyakan mengonsumsi berita melalui media internet, media sosial dan ini susah diawasi dan harus diwaspadai,” tuturnya.

Dia menambahkan BNPT sudah membentuk Duta Damai yang anggotanya dari para kaum milenial yang aktif di media sosial dan blogger, mereka berperan menyebarkan narasi damai dan kontra narasi terhadap kaum narasi-narasi radikal. (smh)

* Artikel ini telah dibaca 2 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *