Home > EDITOR'S CHOICE > Pandemi, Pebisnis Dan Media Sosial

Pandemi, Pebisnis Dan Media Sosial

                                                                           Oleh: Khoir Alfaroli

Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak 8 bulan lalu hingga saat ini telah memberikan banyak perubahan dalam aktivitas masyarakat. Pemerintah pun mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menuntaskan dan meminimalisir penularan wabah Covid-19 di kalangan masyarakat agar tidak semakin meluas.

Pembatasan aktivitas yang terjadi telah mengubah kebiasaan masyarakat yang sebelumnya dengan bebas mau ke mana saja, bertemu siapa saja, dan bersentuhan dengan siapa kini tidak diperbolehkannya melakukan hal itu.

Bahkan pada masa Pandemi Covid-19 ini dampaknya cukup luas baik sosial, ekonomi dan budaya, Di sektor ekonomi kalangan pengusaha perlahan mulai menutup aktivitasnya akibat pendapatannya menurun hingga gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) semakin sulit dihindari.

Data dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyebutkan selama 5 bulan pandemi berlangsung terdapat 3,5 juta lebih pekerja yang terkena PHK.

Pembatasan aktivitas menjadi salah satu faktor yang membuat terjadinya penurunan daya beli masyarakat. Imbasnya terjadi perputaran arus keuangan yang tidak stabil.

Daya Beli Menurun

Selama pandemi, masyarakat teralihkan fokus utamanya kepada kesehatan dan menghemat pengeluaran untuk menjaga kantong keuangan agar tetap bisa bertahan meski harus di rumah saja.

Faktor yang menyebabkan menurunnya daya beli dikarenakan gelombang PHK dan minimnya lowongan kerja. Selain itu, tingkat kepercayaan yang semakin menurun efek dari ketakutan masyarakat akan tertularnya virus sangat berdampak buruk bagi daya beli masyarakat.

Efeknya terjadi penurunan yang sangat signifikan pada arus keuangan pebisnis. Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan survai terhadap 34.000 pengusaha skala usaha mikro dan kecil (UMK) dan usaha menengah dan besar (UMB) di berbagai daerah di Indonesia dan tercatat sebanyak 84 UMK dan 82% UMB mengalami penurunan pendapatan sejak pandemi Covid-19 terjadi.

Pemerintah terus berupaya untuk mengurangi beban masyarakat dan pebisnis dengan adanya Bantuan Langsung Tunai (BLT), Subsidi Gaji, serta bantuan untuk para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Internet Jadi Senjata Utama

Semenjak diterapkannya Work from Home (WFH) dan belajar dari rumah, seiring berjalannya waktu membuat perubahan kebiasaan masyarakat. Semua serba online dan dalam hal ini, sektor teknologi dan digital yang sangat membantu serta diuntungkan.

Jika sebelum pandemi, masyarakat di Indonesia berdasarkan riset situs HootSuite rata-rata menghabiskan waktu 4-5 jam per hari menggunakan internet. Di saat pandemi naik menjadi 7-8 jam sehari.

Melihat dari meningkatnya aktivitas masyarakat berselancar di dunia maya. Hal ini yang perlu pebisnis lirik untuk segera mengubah strategi dari yang biasa lebih didominasi offline untuk segera menyasar pangsa online.

Hal tersebut menjadi langkah yang tepat untuk dilakukan agar bisnis tetap berjalan seiring dengan perubahan kebiasaan pada masyarakat.

Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mencatat, aktivitas belanja online meningkat sampai 400% selama Pandemi Covid-19. Platform marketplace, ojek online, dan jasa pengiriman menjadi alternatif yang memberikan kenyamanan bagi pelanggan, karena tidak harus keluar dari rumah. Meski pembatasan mulai dilonggarkan, namun kebiasaan masyarakat akan belanja online kian bertambah karena banyaknya diskon dan gratis ongkir.

Memanfaatkan Media Sosial

HootSuite menyebutkan, 80% pengguna internet di Indonesia menghabiskan waktu untuk mengunjungi situs media sosial (medsos) . Di tengah kecemasan yang terjadi di masyarakat, medsos menjadi platform yang paling sering dikunjungi karena berisi hiburan dan informasi tentang Covid-19 yang up to date.

Pebisnis pun perlu memanfaatkan momen untuk menarik perhatian pengguna media sosial. Pasalnya, media sosial memiliki keunggulan lebih dibandingkan saluran media lain.

Media sosial merupakan salah satu saluran komunikasi dua arah yang bisa dilakukan secara mudah dan murah antara pebisnis dan pembeli. Tak perlu waktu lama dan cara yang sederhana memudahkan pembeli untuk menanyakan seputar produk dan harga. Momen seperti ini menjadikan masyarakat lebih teliti dan detail terhadap apa yang akan mereka beli.

Tidak mengehankan, jika melaui media sosial banyak pebisnis baru yang cepat mendapatkan hasil yang tinggi hanya menggunakan media sosial. Bahkan di tengah Pandemi mulai banyak bermunculan bisnis rumahan yang hanya mengandalkan medsos untuk promosi.

Selain itu, media sosial memberikan fitur data yang akurat sehingga memudahkan bagi pengusaha untuk menargetkan calon pembeli yang lebih spesifik. Fitur tersebut mampu memberikan data secara detail dari mulai umur, jenis kelamin, dan lokasi di mana audience tinggal. Hal ini membuat iklan lebih terarah dan sampai kepada customer yang benar-benar membutuhkan produk yang ditawarkan.

Kondisi itu, mendorong para pebisnis bisa lebih meminimalkan budget iklan dan kembali beraktivitas untuk menjalankan bisnisnya, meski harus terpaksa mengubah strategi dan mengikuti kebiasaan baru yang terjadi di masyarakat.

(Khoir Alfaroli Social Media Specialist di IS Cretive (Design Agency & Digital Marketing) serta alumni STIKOM Semarang 2018)

 

* Artikel ini telah dibaca 21 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *