Home > EKONOMI & BISNIS > AGRIBISNIS > Rawapening Akan Direvitalisasi Pada 2021

Rawapening Akan Direvitalisasi Pada 2021

SEMARANG[Kampusnesia] –  Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana terus berupaya mengebut pekerjaan proyek pembersihan enceng gondok yang memenuhi Danau Rawa Pening, di wilayah Kabupaten Semarang yang ditargetkan rampung akhir tahun ini.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) OP Bendungan Rawapening BBWSO Pemali Juwana, Fuad Kurniawan mengatakan proses pembersihan itu ditargetkan tuntas akhir tahun ini, dan 2021 akan dilakukan revitalisasi Danau Rawapening.

Danau Rawapening membentang di empat Kecamatan yakni Kecamatan Ambarawa, Tuntang, Banyubiru dan Bawen memiliki total luas genangan air sekitar 1.850 hektare. Sedangkan 685 hektare di antarannya ditumbuhi gulma air serta ecemg gondok.

Berdasarkan kajian, lanjutnya, Danau Rawapening termasuk kritis dan perlu ditangani. Untuk itu pihaknya bekerja sama dengan TNI melakukan pembersihan gulma air, yang dapat mengakibatkan pendangkalan danau.

“Kami bekerja sama dengan Kodam IV/Diponegoro dalam pembersihan gulma air ini. Pembersihan ditergetkan selesai akhir tahun ini,” ujarnya, Senin (16/11)

Menurutnya, pihaknya telah menerjunkan sebanyak 40 alat berat, seperti excavator, truxor, dredger multifungsi, harvester berky, dan sebagainya, mengingat  gulma air yang tumbuh di Danau Rawapening bukan hanya jenis enceng gondok, tapi ada beberapa lainnya.

“Kami terjunkan 40 alat berat, di antaranya ada excavator dan pemanen gulma air, karena bukan hanya enceng gondok, masih ada beberapa lainnya. Pengerjaan sesuai jam kerja yang diharapkan tahun ini sudah habis,” tuturnya.

Sedangkan gulma air, tutur Fuad, yang diangkat sebagian dibuang ke luar area danau. Namun, sebagian lagi dibuang di tepi danau yang aman dari badan air.

“Dibuang di luar, tapi sebagian di tepi danau tapi tidak terkena badan air. Jadi dipastikan tidak tumbuh lagi,” ujarnya.

Fuad menuturkam pembersihan gulma air tergolong sulit karena tumbuhan tersebut mudah dan cepat berkembangbiak. Selain itu, adanya keramba, beranjang dan lainnya milik warga juga menghambat proses pembersihan.

“Kami minta support dari kementrian dan pemda untuk bisa membantu untuk proses pembersihan, terutama adanya keramba, beranjang dan lainnya itu,” tuturnya.

Menurutnya, upaya pembersihan gulma air, tidak lepas dari rencana revitalisasi Danau Rawapening, yang dilaksanakan mulai tahun depan. Rawapening memiliki beberapa manfaat atau fungsi, di antaranya penyedia air baku, pembangkit listrik tenaga air, pariwisata, irigasi, dan pengendali banjir.

“Pada intinya Rawapening akan dikembalikan seperti semula. Target pembersihan selesai tahun ini, dan revitalisasi dilaksanakan pada 2021,” ujarnya.

Saat ini, pihaknya sedang melakukan kajian zonasi terkait rencana revitalisasi yang akan dilaksanalan.

“Kami kaji zonasi karena Danau Rawapening ini melintang di empat kecamatan, biar nanti dapat disesuaikan dengan kearifan lokal yang perlu diangkat,” tutur Fuad.

Koordinator Wilayah Banyubiru Forum Relawan Lintas Komunitas (Forlinkom) Rawapening, Yazid Khairil Aziz mengatakan Forlinkom sudah melalukan pembersihan gulma air sejak 2015 silam.

“Pada 2015 itu kita mulai melakukan kegiatan pembersihan gulma air. Saat itu masih menggunakan alat tradisional, disusul 2016 kembali bersih-bersih. Namun pada 2017 kami off karena pemberihan dilakukan BBWSO. Bahkan Forlinkom kembali turun membersihkan 2018, tapi hanya di sungai-sungai,” ujarnya.

Meluasnya tumbuhan enceng gondok di Rawa Pening ini, jelas mengganggu terhadap volume air karena tidak akan optimal. Padahal air di Rawa Pening ini banyak dibutuhkan untuk kepentingan masyarakat. (rs)

* Artikel ini telah dibaca 7 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *