Home > EDITOR'S CHOICE > Beda Teori Dengan Prakteknya

Beda Teori Dengan Prakteknya

Ada info menyejukkan dari seorang dokter ahli Jantung RS Pelni dan Persahabatan Dr Pandu Murti, yang menyitir hasil penelitian selama 30 tahun seorang insinyur Andre Simoneton  yang menyimpulkan bahwa semua virus bergetar dalam frequensi di bawah 5000 angstrom.

Sementara DR David Hawkins memetakan frequensi rendah yang dihasilkan manusia  disebabkan oleh rasa takut, kuatir, sedih, panik dan putus asa.

Sedang frequensinya akan tinggi bila manusia sedang merasa gembira, sukacita, bersyukur, pencerahan, serta cinta kasih.

Mencermati apa yang ditulis Dr Pandu tersebut, secara teoretis sangat mudah mengatasi virus Covid-19 itu, hanya cukup dengan bergembira ria, bersuka cita, bersyukur, cerah serta cinta kasih.

Namun, kenyataannya hal yang secara teoretis mudah tersebut, susah dipraktekkan. Banyaknya informasi yang simpang siur yang dinyatakan oleh dokter serta para ahli lainnya yang saling bertentangan, belum lagi info- info menyesatkan yang sengaja dishare dengan tujuan meresahkan masyarakat.

Pertanyaannya, bagaimana menyampaikan informasi yang sederhana, simpel, serta akurat seperti yang disampaikan Dr Pandu tersebut, sehingga masyarakat bisa memercayai dan menjalankannya, sekaligus mampu menepis informasi- informasi yang meresahkan?.

Infodemi

Berbareng dengan Pandemi Covid-19 yang hingga kini belum melandai, bahkan terkesan terus meningkat, bila kita cermati, sebenarnya yang lebih meresahkan justru carut marutnya informasi di seputarnya.

Masyarakat sering dibuat resah oleh silang pendapat oleh epidemolog  serta pakar kesehatan lainnya, yang terus berdebat tanpa ujung, seolah pendapatnya yang paling benar, apakah dari droplet, aerosol, bahkan ada pula yang menyebut airborne.

Silang pendapat tersebut sebenarnya bagus bila dilakukan di forum terbatas, untuk menemukan kesepakatan atau setidaknya saling pengertian.

Sayangnya hal tersebut mereka saling lontarkan lewat media, terlebih media sosial( medsos) yang tidak jelas penanggungjawabnya.

Belum lagi data tentang yang terpapar, yang sembuh dan yang meninggal yang sering terkesan terpolitisir untuk kepentingan tertentu.

Kondisi seperti itu tentu sangat membingungkan masyarakat, dan dampak negatifnya adalah menjadi paranoid yang jelas menghasilkan rendahnya frequensi yang dihasilkan tubuh. Itu pula yang oleh sebagian ahli dikaitkan dengan kecepatan serta luasnya penyebaran, namun oleh sebagian ahli lainnya dibantah.

Dari sisi komunikasi, ketidakjelasan tersebutlah yang menjadikan masyarakat bingung, dan karena info yang tidak jelas yang mudah dipercaya itulah masyarakat menjadi ketakutan.

Celakanya justru info-info yang menakutkan itulah yang banyak tersebarluaskan melalui medsos, sehingga hampir tiada hari di grup- grup medsos, terjadi diskusi yang sering mengarah ke perdebatan irasional.

Padahal medsos yang merupakan bagian dari internet dan dikategorikan sebagai media massa, memiliki kekuatan di antaranya melipatgandakan pengetahuan, termasuk melipatgandakan kebingungan dan perdebatan, yang pada akhirnya menurunkan frequensi yang dihasilkan dan berdampak pada mudahnya terpapar Covid-19.

Karena itulah, kita maklum bila pemerintah menerapkan kebijakan PSBM (Pembatasan Sosial Berskala Mikro) dengan tujuan memutus mata rantai penyebaran virus Corona.

Prokes Plus

Karena itu, sembari berdisiplin mengikuti kebijakan pemerintah sambil terus berdisiplin menjalankan protokol kesehatan (prokes), sangatlah cocok bila setiap orang bisa mengerti dan menjalankan informasi Dr Pandu.

Sembari terus- menerus pula menyosialisasikannya, tampaknya sebelum vaksin merata diberikan, hal tersebut akan membantu mengurangi orang yang terpapar sekaligus membantu mempercepat penyembuhannya.

Dengan terus bergembira ria, bertawakal, serta memupus rasa takut, maka frequensi dari tubuh setiap orang akan mampu menangkal menempelnya virus ke inangnya, dan bila demikian sang virus tentu akan segera mati.

Berdiskusi lewat grup- grup medsos memang baik. Namun akan lebih bermanfaat bila mampu memunculkan kebersamaan dan keseiasekataan, memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19, melalui disiplin prokes, sembari meningkatkan tingginya frequensi dari tubuh setiap individu.

* Artikel ini telah dibaca 24 kali.
Gunawan Witjaksana
Dosen dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang. Pengamat komunikasi dan media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *