Home > EKONOMI & BISNIS > Inflasi Jateng Selama 2020 Rendah Dan Terkendali

Inflasi Jateng Selama 2020 Rendah Dan Terkendali

SEMARANG[Kampusnesia] – Badan Pusat Statistik periode Desember 2020 menyebutkan Jawa Tengah mencatat inflasi sebesar 0,46% (mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya yang sebesar 0,18% (mtm). Realisasi tersebut masih lebih rendah dibandingkan rata-rata inflasi lima tahun terakhir sebesar 0,57% (mtm).

Dengan realisasi tersebut, secara tahunan inflasi Jawa Tengah pada 2020 adalah sebesar 1,56% (yoy), lebih rendah daripada inflasi kawasan Jawa yang sebesar 1,73% (yoy) dan inflasi nasional yang sebesar 1,68% (yoy).

Inflasi Jawa Tengah Desember 2020 utamanya bersumber dari peningkatan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Andil kelompok tersebut terhadap inflasi pada Desember 2020 adalah sebesar 0,40% (mtm) dengan kenaikan indeks harga sebesar 1,62% (mtm). Inflasi juga didorong oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (andil sebesar 0,03%; mtm) dan kelompok barang dan jasa transportasi (andil sebesar 0,02%; mtm).

Peningkatan inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau terutama bersumber dari sub-kelompok makanan. Inflasi pada sub-kelompok tersebut sebesar 1,99% (mtm), lebih tinggi dari inflasi bulan sebelumnya 1,25% (mtm).

Meningkatnya laju inflasi bersumber dari peningkatan harga pada beberapa komoditas utama, di antaranya cabai merah (56,84%; mtm), cabai rawit (45,44%; mtm), cabai hijau (30,89%; mtm), telur ayam ras (11,41%; mtm) dan daging ayam ras (3,6%; mtm). Kenaikan harga komoditas aneka cabai tersebut disebabkan oleh menurunnya pasokan, sebagai dampak rendahnya produktivitas tanaman cabai akibat curah hujan yang tinggi dalam dua bulan terakhir.

Sementara kenaikan harga daging dan telur ayam ras seiring dengan masih rendahnya pasokan ditengah permintaan masyarakat yang mulai meningkat pada perayaan Natal dan Tahun Baru.

Sedangkan rendahnya pasokan telur ayam ras dan daging ayam ras juga seiring dengan instruksi kementan untuk membatasi supply (SE No. 9663SE/PK.230/F/09/2020 pada September 2020 tentang pengurangan DOC final stock ayam ras pedaging untuk stabilisasi harga di tingkat peternak.

Selanjutnya peningkatan inflasi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga bersumber dari sub-kelompok sewa dan kontrak rumah. Inflasi sub-kelompok tersebut sebesar 0,27% (mtm), meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang relatif stabil. Peningkatan tertinggi terjadi pada komoditas kontrak rumah sebesar 0,45% (mtm), didorong oleh indikasi meningkatnya permintaan terhadap properti residensial yang tercermin dari peningkatan indeks harga properti residensial (hasil Survei Harga Properti Residensial-SHPR) dari sebesar 205,38 pada triwulan III 2020 menjadi 205,91 pada triwulan IV 2020.

Inflasi pada kelompok transportasi bersumber dari sub-kelompok jasa angkutan penumpang. Inflasi sub-kelompok tersebut sebesar 0,83% (mtm), bertolak belakang dengan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi 4,43% (mtm). Meningkatnya inflasi pada sub-kelompok tersebut bersumber dari peningkatan tarif angkutan udara (1,18%; mtm) dan angkutan antar kota (0,33%; mtm). Adanya liburan akhir tahun (Natal dan Tahun Baru) dimanfaatkan oleh masyarakat untuk melakukan perjalanan mengkompensasi larangan mudik saat periode Idul Fitri 2020. Peningkatan permintaan tersebut kemudian direspon oleh maskapai penerbangan dalam bentuk peningkatan harga jual. Meningkatnya mobilitas masyarakat di antaranya tercermin dari aktivitas di Bandara Ahmad Yani Semarang yang lebih tinggi dibandingkan periode normal selama pandemi.

Seluruh kota pantauan di Jawa Tengah pada Desember 2020 mengalami Inflasi dengan intensitas yang beragam. Inflasi tertinggi terjadi di  Kota Tegal (0,56%), kemudian inflasi terendah terjadi di Kota Surakarta (0,32%). Tingginya inflasi di Kota Tegal didorong oleh peningkatan indeks harga cabai merah yang tertinggi (63,17%; mtm) dibandingkan daerah lainnya di Jawa Tengah. Mayoritas tekanan inflasi secara spasial tersebut didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Sementara rendahnya inflasi di kota Surakarta karena kenaikan harga komoditas utama penyumbang inflasi khususnya cabai rawit dan daging ayam ras lebih rendah dibandingkan daerah lainnya.

Ke depan laju Inflasi bulanan Jawa Tengah diperkirakan masih berlanjut dengan intensitas yang lebih rendah. Laju inflasi diperkirakan masih bersumber dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, kelompok transportasi, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kelompok makanan minuman, dan tembakau diperkirakan akan menjadi faktor utama pendorong laju inflasi pada Januari 2021.

Beberapa faktor risiko yang berpotensi mendorong laju inflasi kelompok barang dan jasa ini adalah berlanjutnya penurunan pasokan komoditas aneka cabai seiring dengan curah hujan yang diperkirakan masih akan tinggi hingga akhir bulan Januari 2021 sebagai dampak dari La Nina  yang melanda sebagian wilayah Jawa Tengah.

Faktor berikutnya yang berpotensi mendorong laju inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau adalah potensi peningkatan harga rokok seiring dengan kebijakan pemerintah yang akan menaikkan cukai rokok sebesar 12,5% pada 2021. Sementara itu, risiko berlanjutnya kenaikan tarif angkutan akan mendorong laju inflasi pada kelompok transportasi. Sedangkan risiko berlanjutnya kenaikan harga emas global akan berdampak bagi kenaikan harga emas perhiasan pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Menyikapi hal tersebut, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) akan terus melakukan empat kunci pengendalian inflasi di antaranya ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.

Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga inflasi Jawa Tengah pada tahun 2021 tetap berada pada kisaran sasaran inflasi 3,0%±1%. (rs)

* Artikel ini telah dibaca 5 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *