Home > EDITOR'S CHOICE > Menanti Vaksin Ditengah Pengendalian Covid-19

Menanti Vaksin Ditengah Pengendalian Covid-19

 

                                                                            Oleh: Suryanto

Jumlah kasus Covid-19 global kini tembus angka 90 juta pada periode Senin (11/1/2021). Perkembangan virus yang telah membuat pandemi besar selama setahun terakhir ini semakin diperparah dengan perkembangan strain barunya di Inggris dan Afrika Selatan.

Melansir Reuters, jumlah kasus Covid-19 meningkat pesat dalam beberapa bulan terakhir dengan sekitar sepertiga dari total kasus terdaftar dalam 48 hari terakhir. Kebanyakan kasus itu tercatat di Eropa, Amerika Serikat (AS), dan Amerika Latin.

Amerika Serikat, negara yang paling terkena dampak terparah di dunia, melaporkan jumlah kematian tertinggi pada hari Rabu (6/1/2021), dengan lebih dari 4.000 kematian dalam satu hari. Eropa, yang menjadi wilayah pertama yang melaporkan 25 juta kasus pekan lalu,  menjadi wilayah yang paling parah terkena dampak di dunia, diikuti oleh Amerika Utara dan Latin dengan masing-masing 22,4 juta dan 16,3 juta kasus. Sejauh ini benua biru telah melaporkan sekitar 31% dari sekitar 1,93 juta kematian terkait virus Corona secara global.

Di Asia, India lebih dari 150.000 kematian Selasa (5/11/2021) pekan lalu, menjadikannya negara ketiga yang mencapai tonggak sejarah yang suram. Negara Asia Selatan tersebut telah menyetujui dua vaksin Covid-19 dan akan memulai program vaksinasi mulai 16 Januari mendatang dengan prioritas diberikan kepada sekitar 30 juta pekerja kesehatan dan pekerja garis depan.

Sementara penambahan kasus Covid-19 positif di Indonesia mulai melaju cepat sejak  libur akhir tahun Desember lalu, bergerak fluktuatif antara 700-an kasus hingga lebih dari 4.000 kasus baru per hari. Pada 11 Januaari 2021, sejulmah 836,718 dinyatakan terpapar positif, sebanyak  688,739 dinyatakan sembuh, dan sebanyak 24,343 meninggal.

Sedangkan penularan Covid-19 dalam tiga bulan terakhir ini begitu menghawatirkan, sehingga fenomena ini dimaknai sebagai kegagalan dalam mengendalikan laju penularan Covid-19. Hampir di seluruh kota besar terutama di pulau Jawa-Bali mengalami zona merah, sehingga pemerintah dalam jangka pendek kembali melakukan upaya ketat melawan laju pertumbuhan Covid-19. Dalam jangka panjang pemerintah mengeluarkan kebijakan vaksinasi massal sebagai tumpuan harapan untuk menang melawan virus Corona yang akan dimulai pada pertengahan Januari mendatang.

Menanti Vaksin Covid-19

Pemerintah juga menetapkan Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) sebagai bencana non-alam, dan kemudian diikuti dengan berbagai upaya pencegahan penyebaran virus yang mematikan itu, di antaranya  pembatasan sosial, pembatasan kerumunan orang, pembatasan perjalanan, pemberlakuan  isolasi, penundaan dan pembatalan acara, serta penutupan fasilitas dan pengaturan pelayanan publik.

Di saat terjadi laju pesat pandemi yang kian mencemaskan seperti sekarang ini, masyarakat berharap vaksin dapat segera tersedia.  Tapi tentu saja kita maklum bahwa proses mendapatkan vaksin membutuhkan waktu yang cukup  lama.  Di sisi lain, ketika beban penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi sudah mulai berkurang seringkali masyarakat melupakan, bahkan ada sebagian kelompok masyarakat yang menghindar dari program imunisasi.

Imunisasi merupakan upaya kesehatan masyarakat yang dianggap paling efektif dan efisien dalam mencegah beberapa penyakit berbahaya. Sejarah telah mencatat besarnya peranan imunisasi dalam menyelamatkan masyarakat dunia dari kesakitan, kecacatan bahkan kematian akibat  penyakit seperti Cacar, Polio, Tuberkulosis, Hepatitis B yang dapat berakibat pada kanker hati, Difteri, Campak, Rubela dan Sindrom Kecacatan Bawaan Akibat Rubela (Congenital Rubella Syndrom/CRS), Tetanus pada ibu hamil dan bayi baru lahir, Pneumonia (radang paru), Meningitis (radang selaput otak), hingga Kanker Serviks yang disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus.

Dalam imunisasi terdapat konsep Herd Immunity atau Kekebalan Kelompok, yang hanya dapat terbentuk apabila cakupan imunisasi pada sasaran tinggi dan merata di seluruh wilayah. Kebalnya sebagian besar sasaran ini secara tidak langsung akan turut memberikan perlindungan bagi kelompok usia lainnya, sehingga bila ada satu atau sejumlah kasus Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) di masyarakat maka penyakit tersebut tidak akan menyebar dengan cepat dan Kejadian Luar Biasa (KLB) dapat dicegah.

Konsep ini merupakan bukti bahwa program imunisasi sangat efektif juga efisien karena  dengan menyasar kelompok rentan maka seluruh masyarakat diharapkan akan dapat terlindungi.

Tekankan Protokol Kesehatan

Keberadaan vaksin bukan berarti protokol kesehatan bisa ditinggalkan. Penerima vaksin tetap rentan tertular selama masa tunggu dan bahkan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika menyarankan untuk tetap menggunakan maskler, mencuci tangah dan menjaga jarak walau selesaidivaksin. Pasalnya, keampuhan vaksin yang saat ini disuntikkan berbagai negara belum benar-benar diketahui berapa lama antibodi akan bisa bertahan dalam tubuh.

Pengembangan vaksin Covid-19 yang luar biasa cepat berarti belum cukup waktu untuk mengamati ketahanan antibodi yang dihasilkan. Para ahli kesehatan memperingatkan bahwa kehadiran vaksin tidak akan serta merta menghapuskan Covid-19. Keberadaan vaksin tetap harus dibarengi dengan perbaikan kebijakan skrining, peningkatan kapasitas diagnosis, dan implementasi protokol kesehatan sebagai gaya hidup baru.

Imunisasi merupakan upaya yang paling efektif untuk memberikan kekebalan/ imunitas  spesifik terhadap Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I).  Sejarah telah mencatat bahwa semenjak ditemukannya vaksin, jutaan anak di seluruh dunia dapat diselamatkan dari kematian akibat PD3I, bahkan beberapa penyakit sudah berhasil dieradikasi di muka bumi.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat mengingatkan bahwa vaksin hanya salah satu alat pengendalian Covid-19. Kesuksesan menekan laju pandemi bukan hanya ditentukan oleh adanya vaksin, tapi juga pelacakan yang tepat dan langkah pencegahan yang konsisten.

Apalagi Kementerian Kesehatan Indonesia memperkirakan butuh 15 bulan untuk melaksanakan empat gelombang vaksinasi di seluruh wilayah. Belum ada indikasi apakah antibodi dari vaksin bisa bertahan selama itu.

Jadi, ada kemungkinan bahwa penerima vaksin gelombang pertama atau kedua sudah tidak lagi kebal saat program selesai. Saat kekebalan memudar, hanya protokol kesehatan yang bisa menekan penularan.

Karena itu, menjelang pelaksanaan vaksinasi di negeri ini pemerintah perlu memperbaiki prosedur skrining, meningkatkan kapasitas pelacakan, dan tetap menggiatkan protokol kesehatan pribadi untuk mengoptimalkan pengendalian Covid-19.

Cepat-lambatnya pandemi ini dikendalikan bukan tergantung pada vaksin saja, tapi juga pada komitmen terhadap pelaksanaan kebijakan pengendalian yang sudah ada dari seluruh lapisan masyarakat.

(Suryanto Staf Pengajar Komunikasi Politik Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM)  Semarang)

 

* Artikel ini telah dibaca 18 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *