Home > EKONOMI & BISNIS > Pemprov Jateng Jembatani Kemitraan 15 UMKM Dengan Perusahaan Besar

Pemprov Jateng Jembatani Kemitraan 15 UMKM Dengan Perusahaan Besar

SEMARANG[Kampusnesia] – Sejak tiga tahun terakhir ini 2018 hingga 2020, Pemprov Jawa Tengah berhasil menjembatani program kemitraan pengusaha dengan UMKM dan akan diperluas, sesuai arahan Presiden Joko Widodo ((Jokowi).

Presiden RI Joko Widodo memberikan arahan dalam kegiatan Penandatanganan Perjanjiaan Kemitraan antara perusahaan PMA (Penanaman Modal Asing) dan PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri)  dengan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah), mengatakan kemitraan UMKM dengan usaha besar sangat penting, sebagai upaya agar UMKM bisa masuk rantai produksi global, dan meningkatkan peluang UMKM untuk naik kelas.

“Artinya kualitas produk jadi lebih baik, desain, manajemen jadi lebih baik, lebih bankable (layak mendapat pinjaman bank) karena bisa belajar dari perusahaan-perusahaan besar, baik dalam negeri maupun asing menuju sebuah pertumbuhan ekonomi yang inklusif, yang berkeadilan, dan pemerataan ekonomi,” ujar Jokowi.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Jateng, Ratna Kawuri menuturkan ada 15 perusahaan besar yang bermitra dengan UMKM selama tiga tahun terakhir.

Ke-15 perusahaan besar itu, lanjutnya, di antaranya PT Suwastama yang bekerja sama dengan UKM Yoso Jati (Sukoharjo), PT Cimory dengan UKM Varian Rasa (Varian Rasa), PT Bukalapak dengan UKM Batik Puspa Mekar (Surakarta) dan PT Primissima dengan Batik Sri Asih (Semarang).

“Pada 2020 lalu, Jateng telah menfasilitasi kemitrakan 4 industri besar dengan UKM. Sementara ini, kami list, dari hasil monitoring, 21 perusahaan besar butuh mitra UKM. Saat ini, kami sudah koordinasi, kira-kira UKM mana yang mempunyai karakter/kualifikasi yang pas dibutuhkan investor,” tutur Ratna.

Menurutnya, aspek yang dikerja samakan di antaranya pemasaran, pelatihan, produksi dan penyediaan bahan baku.

Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin mengatakan kemitraan yang dilakukan antara perusahaan besar dan UMKM, sebaiknya juga diperluas lingkupnya, sehingga tidak hanya kemitraan yang sifatnya linier antara perusahaan besar dan kecil melainkan juga mengembangkan kerja sama nonlinier.

“Misal perusahaan yang memproduksi pupuk, jangan hanya bekerja sama dengan UKM yang menyuplai bahan baku tetapi juga bisa melihat sekitar lingkungan perusahaannya. Misal lingkungannya ada masyarakat yang membatik, itu bisa difasilitasi kerja sama. Bisa saja, pengadaan seragam batik perusahaan dari masyarakat di sekitar pabrik,” ujar Taj Yasin.

Dengan mengembangkan kerja sama yang sifatnya tidak linier, tutur Taj Yasin, manfaat positif yang diterima masyarakat akan lebih besar. (rs)

* Artikel ini telah dibaca 37 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *