Home > EDITOR'S CHOICE > Menyoal Disiplin Protokol Kesehatan Dalam Sinetron

Menyoal Disiplin Protokol Kesehatan Dalam Sinetron

                                                              Oleh: Gunawan Witjaksana

Ketidakpatuhan terhadap protokol kesehatan (Prokes) masih sangat sering kita saksikan, baik secara langsung, serta melalui berbagai media.

Adanya banyak dalih serta alasan yang mereka kemukakan, di antaranya contoh yang banyak mereka saksikan di televisi, utamanya sinetron yang tidak mencerminkan kondisi Pandemi Covid-19 saat ini.

Celakanya, bila dalihnya adegannya untuk kondisi normal, kok tidak ada petunjuk terkait hal itu, meski hanya sekedar running tex.

Lebih mengherankan lagi dalam adegan iklan yang disisipkan pemainnya, yang kadang justru ada kaitannya dengan prokes, namun isi pesannya justru lebih pada mengiklankan produk tertentu.

Memang ada sedikit sinetron yang disiplin menampilkan prokes, misalnya Tukang Ojek Pengkolan. Namun mayoritas lainnya abai terhadap prokes, meski pemerintah saat ini sedang  memberlakukan pembatasan.

Pertanyaannya, akankah hal tersebut terus dibiarkan?. Tidak sadarkah para pengelola media bahwa tontonan sinetron yang mereka sajikan tersebut, sering dijadikan tuntunan oleh para pemirsa?.

Efek Kultivasi

Kita tentu ingat apa yang disampaikan George Gebner dengan Teori Kultivasinya, bahwa orang akan menganggap bahwa sesuatu yang mereka tonton secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama, akan membuatnya lupa bahwa yang mereka tonton itu sekedar realitas kamera (tontonan), dan bukanlah realitas empiris (tuntunan).

Dengan demikian, bila hal tersebut kita kaitkan dengan ketidakdisiplinan masyarakat pada prokes, sedikit banyak tontonan sinetron yang abai prokes tersebut tentu ikut andil.

Karena itu, daripada nanti tayangan sinetron dibatasi hingga banyak yang tidak tayang seperti di awal masa Pandemi, akan lebih baik bila sinetron- sinetron yang tayang tetap berskenariokan situasi Pandemi, sehingga adegan- adegan yang mengikuti prokeslah yang ditampilkan.

Kita tentu ingat media itu punya kekuatan selain melipatgandakan pengetahuan, juga menghilangkan jarak ruang dan waktu, termasuk jarak sosial yang menjadi penyebab utama munculnya salah tafsir.

Belum lagi kekuatan interaksi dan komunikasi pararasional yang menyebabkan orang menjadi sok akrab dengan peran yang dibawakan para pemain sinetron, bahkan ada yang sering ikut menangis, membawakan payung ke depan televisi ketika sang idola kehujanan, membawakan minum ketika sang idola kehausan dan yang lainnya.

Partisipasi Aktif

Bagi para pengelola media, sebenarnya justru saat inilah parisipasi mereka bisa dimaksimalkan.

Minimal, melalui tayangan sinetronnya yang berrating tinggi yang berarti banyak yang menonton, maka pesan- pesan pencegahan meluasnya wabah Covid-19, justru bisa diintegrasikan dengan jalan ceritanya, sehingga akan tetap menarik, enak ditonton, namun tetap partisipatif dalam andil ikut memutus rantai penyebarannya.

Mengingatkan masyarakat melalui adegan prokes sebelum sinetron diakhiri, sudah merupakan salah satu upaya yang baik.

Namun, mengintegrasikannya dengan alur cerita akan lebih mudah mengena pada masyarakat secara sukarela serta tanpa menyadarinya.

* Artikel ini telah dibaca 27 kali.
Gunawan Witjaksana
Dosen dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang. Pengamat komunikasi dan media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *