Home > EDITOR'S CHOICE > Menjaga Suasana Kebhinekaan

Menjaga Suasana Kebhinekaan

Akhir- akhir ini suasana menjadi semakin teduh. Informasi, opini , atau bahkan hujatan serta ancaman terhadap pemeluk agama, ras, serta etnis tertentu, sudah hampir tak terdengar lagi seperti beberapa waktu silam.

Tampaknya ketegasan Pemerintah yang didukung TNI, Polri, serta berbagai elemen masyarakat , termasuk Menteri Agama serta SKB Tiga Menteri,  semakin memperteguh serta membuat makin nyaman suasana.

Yang paling aktual, peringatan serta ibadhah Imlek yang dilakukan secara sederhana karena situasi Pandemi pun, terkesan sangat khusyuk dan tenang.

Kita semua tentu berharap suasana Kebhinekaan seperti ini akan terus terpelihara, karena toh pada dasarnya, bahkan sejak Jaman Majapahit suasana semacam ini sudah terjadi di seluruh Nusantara.

Terlebih falsafah sekaligus dasar negara Pancasila telah menjadi kesepakatan para pendiri bangsa. Demikian pula Slogan Bhineka Tunggal Ika yang ada dalam lambang negara Garuda Pancasila.

Karena itu, hal yang perlu kita renungkan bersama adalah bagaimanakah langkah yang perlu dilakukan bersama untuk dapat menjaga kebhinekaan yang kita miliki?

Komunikasi

Kita tentu ingat pepatah Jawa yang berbunyi ” Ajining diri jalaran Soko lati”. Kita akan dihargai orang karena perkataan yang keluar dari mulut kita.

Ada pula pepatah ” Sak dowo- dowoning lurung, isih dowo gurung”. Sepanjang- panjangnya jalan, masih panjang tenggorokan kita.

Kedua pepatah yang saling berkaitan tersebut sebenarnya mengingatkan kita agar kita menjaga setiap kata serta kalimat yang kita ucapkan.

Sayangnya di era keterbukaan dan kebebasan ini seakan orang lupa atau bahkan abai. Yang mereka ingat hanya sekedar bebas berpendapat, tanpa memperhitungkan bagaimana kalau kebebasan yang kita lakukan itu mengusik kebebasan pihak lain. Dengan demikian super ego kita menjadi lebih dominan dibanding emphati. Padahal, sebenarnya ke duanya harus berimbang.

Di Indonesia, sebenarnya yang perlu diterapkan adalah kebebasan yang bertanggung jawab. Ini diperlukan karena di Indonesia pluralistik lah yang perlu saling dijaga.

Ibaratnya, mencari perbedaan itu sangatlah mudah. Yang susah adalah mencari kesamaan di antara perbedaan- perbedaan tersebut di semua sektor, apakah agama, budaya, suku, ras, etnis, dan yang lainnya.

Karena itu, kuncinya adalah toleransi antar apa pun, yang kuncinya adalah emphati.

Dialog Kebhinekaan

Dari bahasa komunikasi, mencari kesamaan dalam perbedaan itu kuncinya adalah dialog. Dialog perlu dilakukan, karena sesungguhnya dalam dialog itu diperlukan budaya saling mengalah untuk mencari titik temu. Dalam bahasa populer sering disebut sebagai win win solution.

Hal lain yang perlu dilakukan dalam menjaga kebhinekaan ini adalah apa yang oleh Ki Hadjar Dewantara  disebut sebagai ” hing ngarsa sung tuladha”.

Kita tentu ingat di Era Gus Dur, yang selalu berada di paling depan sambil memberikan contoh nyata menjalankan toleransi.

Di Era Jokowi pun tidak jauh berbeda implementasinya, termasuk mengangkat Gus Yaqut sebagai Menteri Agama yang pluralis, serta menunjuk pejabat teras yang non muslim.

Karena itu, sudah waktunya bagi semua komponen masyarakat berfikir plural. Kita singkirkan super ego perorangan atau pun kelompok.

Itu semua kita lakukan, demi menjaga kebhinekaan serta suasana yang makin nyaman, karena hanya dengan suasana itulah kita bisa saling bekerjasama serta bahu membahu mewujudkan NKRI yang gemah Ripah loh jinawi seperti yang dicita- citakan para pendiri bangsa.

 

* Artikel ini telah dibaca 30 kali.
Gunawan Witjaksana
Dosen dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang. Pengamat komunikasi dan media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *