Home > HEADLINE > Hindari Penularan Covid, Ruangan Pengungsian Banjir Diminta Disekat

Hindari Penularan Covid, Ruangan Pengungsian Banjir Diminta Disekat

PEKALONGAN[Kampusnesia] – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengunjungi ratusan pengungsi korban banjir yang sudah selama 14 hari tinggal di Aula Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan, Rabu (17/2).

Lokasi gedung yang cukup sempit membuat para pengungsi berjubal. Tidak ada batas-batas penyekat antara satu pengungsi dengan lainnya. Padahal, di lokasi itu tak hanya orang dewasa, namun ada juga balita, lansia dan ibu hamil.

Menurut keterangan Kasi Kesiapsiagaan dan Kebencanaan BPBD Pekalongan, Dimas Arga, total pengungsi di Kota Pekalongan ada 1700-an dan tersebar di 19 lokasi. Sementara yang menempati gedung aula kecamatan Pekalongan Barat itu ada sekitar 230-an pengungsi.

Melihat kondisi itu, Ganjar langsung memanggil Wakil Wali Kota Pekalongan, Afzan Arslan Djunaid dan Kepala BPBD Pekalongan untuk meminta agar pengungsian disekat-sekat guna menghindari penularan Covid-19.

“Kalau seperti ini bahaya pak. Tolong disekat, contohnya seperti pengungsian di Merapi itu, itu bagus disekat-sekat perkeluarga, sehingga potensi penularan Covid-19 bisa ditekan,” ujar Ganjar.

Selain itu, dia juga meminta pengungsi disebar ke sejumlah titik, mengingat di tempat itu terlalu sesak jumlahnya. Bahkan meminta Pemda Pekalongan memanfaatkan gedung-gedung sekolah yang ada untuk pengungsian.

“Tadi sudah sepakat dengan pak Wakil Wali Kota, mudah-mudahan mulai besok sudah disekat-sekat agar para pengungsi ini harapannya punya satu ruang perkeluarga. Kalau kurang, bisa mencari tempat lain yang terdekat, bisa gedung SD dan lainnya,” tuturnya.

Dengan penyekatan dan penyebaran pengungsi itu, diharapkan masyarakat akan lebih nyaman, termasuk pemenuhan kebutuhan lain seperti selimut, alas tidur bisa dipenuhi. Selain nyaman, hal itu bisa mengurangi potensi penyebaran kasus Covid-19.

“Apalagi cuaca masih seperti ini, maka kita harus menyiapkan dalam waktu yang lebih. BMKG sudah mengingatkan, puncak musim hujan sampai akhir Februari, meskipun pada Maret sampai April masih terjadi curah hujan. Jadi inilah yang mesti kita respon dengan cepat,” ujarnya.

Ganjar juga meminta Dinas Kesehatan untuk rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, termasuk pemeriksaan Covid-19. Bahkan diharapkan jika alat pendeteksi Covid-19 dari UGM, GeNose sudah dikirim ke Jateng, maka alat itu bisa dikirim ke tempat-tempat pengungsian seperti ini.

“Mudah-mudahan minggu ini atau minggu depan sudah datang, nanti saya kirim ke sini untuk pengetesan. Begitu semuanya negatif, maka lokasi ini harus dikunci dan semua pendatang dibatasi serta dipastikan sehat,” tuturnya.

Disinggung terkait penanganan banjir di Pekalongan, Ganjar mengatakan semua sedang berjalan secara bertahap. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan dari hulu sampai hilir untuk mempercepat persoalan ini.

“Kami bagi tugas. Khusus Kota Pekalongan ini, kita sudah buat designnya, semua harus konsentrasi bareng-bareng. Pak Wali menata saluran air di kotanya, saya menata sungai dan tanggul laut saya sudah bicara dengan Kementerian PUPR itu terus berjalan. Beberapa kontrak pekerjaan fisik juga masih terus dilakukan, akan saya pantau dan kawal terus agar progresnya bisa cepat,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu pengungsi, Anik ,26, sepakat dengan agar lokasi pengungsian disekat-sekat. Sebab kondisi saat ini memang mengkhawatirkan.

“Ya takut tertular Covid kalau seperti ini, apalagi saya bawa anak kecil. Tapi mau gimana lagi, hanya disini tempatnya,” tuturnya.

Anik berharap tempat pengungsian itu disekat-sekat dan dibatasi jumlahnya. Hal itu agar para pengungsi lebih aman dan nyaman. Selain itu juga mengharapkan para pengungsi diperiksa rapid antigen atau swab. Sebab selama mengungsi 14 hari, belum ada pemeriksaan itu.

“Hanya diperiksa kesehatannya saja, tidak ada pemeriksaan khusus Covid. Ya harapannya diperiksa, jadi semuanya bisa aman,” ujarnya.

Selain mengecek pengungsi, Ganjar juga mengecek lokasi banjir di Desa Pasir Kraton Kramat. Dengan berjalan kaki menyusuri gang dengan ketinggian air sampai sepusar orang dewasa. Bahkan juga menyempatkan diri menengok dapur umum yang ada di dekat lokasi bencana. (rs)

* Artikel ini telah dibaca 21 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *