Home > EDITOR'S CHOICE > Menebar Radikalisme, Kemudian Menuai Teror

Menebar Radikalisme, Kemudian Menuai Teror

                                                                             Oleh: Suryanto

Dalam waktu satu pekan, telah terjadi aksi teror yang cukup menggemparkan masyarakat. Peristiwa 28 Maret lalu, teroris menyerang gereja katedral di Makasar, dengan jumlah korban yang cukup banyak. Belum lagi usai penanganan teror di Makassar, disusul 31 Maret, publik digegerkan dengan aksi teror yang menyerang Mabes Polri.

Pelaku teror seorang perempuan berusian muda tergolong nekat masuk ke Markas Besar Kepolisian yang berakhir tragis ditembak dan akhirnya meninggal di tempat kejadian.

Dari kedua peristiwa aksi teror tersebut, menurut pihak Kepolisian pelakunya adalah anggota Jama’ah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS. Sedangkan pelaku teror di Makassar, tepatnya di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, L (26 th), merupakan teroris jaringan  JAD, yang juga  diketahui memiliki keterkaitan dengan peristiwa bom di Gereja Katedral Jolo, Filipina pada 2018 silam.

Sementara, pelaku serangan yang terjadi di Mebes Polri, pada 31 Maret lalu,  menjadi aksi teror ke sekian kali yang menyasar kantor Polisi, pelakunya adalah  Zakiah Aini (25 th), yang kemudian pelaku  pun tewas dalam baku tembak dengan Polisi.

Zakiah Aini beraksi sendirian, dan dia dilumpuhkan setelah sempat meletuskan senjata apinya enam kali ke arah petugas di Mabes Polri Warga Ciracas, Jakarta Timur itu, disebut berideologi ISIS. Sekitar 21 jam sebelum beraksi, Zakiah Aini mengunggah bendera kelompok militan ekstremis itu dalam akun media sosialnya.

Aksi penyerangan ke kantor Polisi seperti yang dilakukan Zakiah Aini ini bukan pertama kalinya terjadi. Jauh sebelum aksi Zakiah Aini, sejumlah teror ke kantor Polisi sudah terjadi berulang kali.

Jadi kalau dilihat dari faktor usia dari kedua pelaku teror, baik yang terjadi di gereja Katdral  Makasar maupun di Mabes Polri, mereka adalah generasi milineal yang jelas-jelas terpapar faham radikal membabi buta.

Teror bom adalah tindakan keji yang membajak kesucian agama sebagai pembenar atas tindak sesat yang dilakukan, terlebih lagi katika dilakukan pada saat masyarakat sedang dilanda wabah pandemi Covid-19 yang sampai saat ini belum selesai.

Aksi terorisme adalah bentuk kejahatan kemanusiaan yang menebar ketakutan dan menggerogoti rasa aman masyarakat.  Walaupun berbagai upaya telah dilakukan untuk meredam radikalisme dan terorisme. Tetapi, aksi teror bom bunuh dari sepertinya tak pernah mati. Tidak sedikit terduga teroris telah ditangkap aparat. Alih-alih surut, dalam kenyataan justru muncul aksi balas dendam.

Lahirnya Ormas Radikal Pasca Reformasi

Radikalisme adalah pemikiran atau sikap keagamaan yang ditandai sikap yang tidak toleran, tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain, cenderung menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan. Umumnya radikalisme muncul dari pemahaman agama yang tertutup.

Kaum radikal selalu merasa kelompok mereka yang paling memahami ajaran Tuhan, karenanya, mereka suka mengkafirkan orang lain atau menganggap orang lain sesat. Dilihat dari sejarahnya, radikalisme terdiri dari dua wujud, radikalisme dalam pikiran, yang sering juga disebut sebagai fundamentalisme dan radikalisme dalam tindakan terorisme.

Terorisme tidak selalu menentang globalisasi, namun terorisme juga memanfaatkan globalisasi untuk kepentingannya. Jaringan terorisme memanfaatkan teknologi dan komunikasi untuk menyebarkan ideologinya. Penyampaian pemberitaan dan pesan dapat cepat terkirim ke masyarakat global maupun kelompoknya melalui media massa, baik media cetak maupun elektronika.

Tujuan dari kelompok teroris dalam pemanfaatan media massa, dan media sosial di antaranya penyebaran pesan atas rasa takut, ancaman, ideologi, perekrutan dan mengembangkan sel-sel terornya secara luas. Negara Indonesia masih rentan terhadap gerakan radikalisme dan terorisme, walaupun banyak pelaku aksi radikal dan teorisme tertangkap.

Karena masih banyak jaringan-jaringan radikalisme dan terorisme yang masih eksis/tetap hidup di Indonesia, terlebih dengan kemunculan kelompok militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), karena itulah kaum muda sebagai generasi yang paling rentan harus dilindungi dari upaya propaganda radikalisme dan terorisme tersebut khususnya propaganda melalui media yang sangat sulit untuk dibendung.

Pasca reformasi yang ditandai dengan terbukanya kran demokratisasi menjadi lahan subur tumbuhnya kelompok Islam radikal. Fenomena radikalisme ini seringkali disandarkan paham keagamaan, sekalipun pencetusnya bisa lahir dari berbagai sumbu, seperti ekonomi, politik, sosial dan sebagainya.

Dalam konstelasi politik Indonesia, radikalisme Islam kian membesar karena pendukungnya juga semakin meningkat. Akan tetapi, gerakan-gerakan radikal ini kadang berbeda pandangan dan tujuan, sehingga tidak memiliki pola yang seragam.

Ada yang sekedar memperjuangkan implementasi syariat Islam tanpa keharusan mendirikan “negara Islam”, namun ada pula yang memperjuangkan berdirinya “negara Islam Indonesia”, disamping itu pula da yang memperjuangkan berdirinya “khilafah Islamiyah”.

Pola organisasinya juga beragam, mulai dari gerakan moral ideology seperti Majelis Mujahidin Indonesai (MMI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang mengarah pada gaya militer seperti Laskar Jihad (JI), Front Pembela Islam (FPI), dan lainnya.

Radikalisme yang berujung pada terorisme menjadi masalah penting bagi umat Islam Indonesia dewasa ini. Dua isu itu telah menyebabkan Islam dicap sebagai agama teror dan umat Islam dianggap menyukai jalan kekerasan suci untuk menyebarkan agamanya. Sekalipun anggapan itu mudah dimentahkan, namun fakta bahwa pelaku teror di Indonesia adalah seorang Muslim garis keras sangat membebani psikologi umat Islam secara keseluruhan.

Gerakan Radikalisme Di Indonesia

Radikalisme agama yang dilakukan oleh gerakan Islam garis keras dapat ditelusuri lebih jauh ke belakang. Gerakan ini muncul pada masa kemerdekaan Indonesia, bahkan dapat dikatakan sebagai akar gerakan Islam garis keras era reformasi. Gerakan dimaksud adalah DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) dan Negara Islam Indonesia (NII) yang muncul era 1950- an.

Darul Islam atau NII mulanya di Jawa Barat, Aceh dan Makassar. Gerakan ini disatukan oleh visi dan misi untuk menjadikan syariat sebagai dasar negara Indonesia. Gerakan DI ini berhenti setelah semua pimpinannya atau terbunuh pada awal 1960- an. Sungguhpun demikian, bukan berarti gerakan semacam ini lenyap dari Indonesia.

Pada awal 1970-an dan 1980-an gerakan Islam garis keras muncul kembali, seperti Komando Jihad, Ali Imron, kasus Talangsari oleh Warsidi dan Teror Warman di Lampung untuk mendirikan negara Islam, dan semacamnya.

Pada awalnya, alasan utama dari radikalisme dilatarbelakangi oleh politik lokal, dari ketidakpuasan politik, keterpinggiran politik dan semacamnya. Namun setelah terbentuknya gerakan tersebut, agama meskipun pada awalnya bukan sebagai pemicunya, kemudian menjadi faktor legitimasi maupun perekat yang sangat penting bagi gerakan Islam garis keras.

Gerakan radikalisme ini awalnya muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap komunisme di Indonesia. Selain itu, perlawanan mereka terhadap penerapan Pancasila sebagai asas Tunggal dalam politik. Bagi Kaum radikalis agama sistem demokrasi Pancasila itu dianggap haram hukumnya dan pemerintah di dalamnya adalah kafir taghut (istilah bahasa arab merujuk pada “setan”), begitu pula masyarakat sipil yang bukan termasuk golongan mereka. Oleh sebab itu bersama kelompoknya, kaum ini menggaungkan formalisasi syariah sebagai solusi dalam kehidupan bernegara.

Ada 3 kelompok kekuatan yang mendukung formalisasi syariah, Salafi-Wahabi, Ikhwanul Muslimin, dan Hizbut Tahrir (HT) yang memengaruhi para mahasiswa dari berbagai belahan dunia yang belajar di Timur Tengah, khususnya Mesir, Saudi Arabia dan Syiria.

Bedanya, kalau Salafi-Wahaby cenderung ke masalah ibadah formal yang berusaha “meluruskan” orang Islam. Ikhwan bergerak lewat gerakan usroh yang beranggotakan 7-10 orang dengan satu amir. Mereka hidup sebagaimana layaknya keluarga di mana amir bertanggungjawab terhadap kebutuhan anggota usrohnya. Kelompok ini menamakan diri kelompok Tarbiyah yang merupakan cikal bakal PKS.

HT punya konstitusi yang terdiri dari 187 pasal. Di dalamnya ada program jangka pendek dan jangka panjang. Dalam jangka 13 tahun sejak berdirinya (1953), Negara Arab sudah harus menjalankan sistem Khilafah Islamiyah. Organisasi ini juga menargetkan, dalam 30 tahun dunia Islam sudah harus punya khalifah. Ini semua tidak terbukti.

HT masuk Indonesia melalui orang Libanon, Abdurrahman Al-Baghdadi. Dia bermukim di Jakarta pada 1980-an atas ajakan KH. Abdullah bin Nuh dari Cianjur. Sebelumnya KH. Abdullah bin Nuh bertemu aktifis HT di Australia dan mulai menunjukkan ketertarikannya pada ide-ide persatuan umat Islam dan Khilafah Islamiyah. Puteranya, Mustofa bin Abdullah bin Nuh lulusan Yordania kemudian juga ikut andil menyebarluaskan paham HT di wilayah Jawa Barat dan Banten didukung oleh saudara-saudara dan kerabatnya.

Berbagai aksi radikalisme terhadap generasi milenial kembali menjadi perhatian serius oleh banyak kalangan di tanah air. Bahkan, serangkaian aksi para pelaku dan simpatisan pendukung, baik aktif maupun pasif, banyak berasal dari berbagai kalangan.

Benih Terorisme

Di antara usaha paling awal kelompok-kelompok radikal Islam dalam memanfaatkan internet adalah dibuatnya Azzam.com, sebuah laman yang dibuat oleh seorang mahasiswa Muslim di Imperial College, London pada 1997. Sejak itu, laman ini banyak ditiru dan mendorong kelompok-kelompok radikal-fundamentalis Islam lainnya untuk membuat laman serupa. Penetrasi pengguna internet di seluruh dunia yang semakin meningkat dari tahun ke tahun merupakan salah satu faktor utama cepatnya pergeseran pola strategi penyebaran ideologi radikal-keagamaan secara global.

Di Indonesia, sejumlah organisasi Islam yang ditengarai berhaluan radikal seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Jamaah Ansharut Daulah (JAD), dan lainnya dilaporkan tengah mengembangkan jihad media sosial di kalangan milenial Muslim dengan memanfaatkan sejumlah platform media baru.

Media sosial memang merupakan salah satu bentuk media baru paling populer, yang secara sadar dimanfaatkan oleh berbagai organisasi radikal-keagamaan di Indonesia untuk berkomunikasi dengan khalayak umum, menyebarkan paham ideologi radikal mereka, membentuk opini publik hingga merekrut kader-kader baru.

Teror bom yang terjadi di Makassar adalah peringatan bahwa ancaman terhadap ketentraman masyarakat masih menghantui kita. Memberantas terorisme hingga seakar-akarnya tidaklah semudah yang diucapkan. Benih-benih intoleransi, radikalisme, dan bahkan terorisme masih saja tumbuh meski para pelaku telah ditangkap dan tewas di tempat terkena ledakan bom bunuh diri.

Intoleransi ialah bibit bagi radikalisme dan radikalisme merupakan cikal bakal munculnya aksi terorisme. Untuk memastikan tidak muncul regenerasi dalam aksi terorisme, oleh karena itu tidak cukup hanya dengan melakukan aksi-aksi penangkapan dan memproses pelaku ke jalur hukum.

Memberantas habitus bagi persemaian para jihadis baru, niscaya membutuhkan program yang kompleks dan melibatkan peran aktif berbagai pihak. Melibatkan mantan kombatan, berbicara dari hati ke hati untuk mendekonstruksi pikiran yang salah adalah salah satu upaya yang perlu dilakukan.

Di luar itu, membangun narasi-narasi Islam yang ramah, toleran dan peduli kepada sesama adalah tantangan yang perlu terus dikembangkan untuk meredam pengaruh buruk sikap intoleransi dan paham radikalisme.  Oleh sebab itu, perlu adanya upaya dalam rangka menangkal gerakan radikalisme di Indonesia. Di sini peran pemerintah diuji, sejauh mana perannya  dalam menghadapi gerakan tersebut.

(Suryanto Staf Pengajar Komunikasi Politik Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM)  Semarang)

* Artikel ini telah dibaca 8 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *