Home > KABAR KAMPUS > EDUKASI KAMPUS > Pengalaman Mengikuti Audisi Denok-Kenang Semarang 2021

Pengalaman Mengikuti Audisi Denok-Kenang Semarang 2021

 

                                                              Oleh: Arlia Izza Karmila

Menjalani hidup dibawah bayang-bayang ancaman penularan Covid-19 dalam satu tahun terakhir semakin mendorong masyarakat lebih kreatif dan mampu bangkit untuk mewujudkan mimpi-mimpinya melalui berbagai kiat inovatif.

Demikian juga aku bersama teman-teman mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM ) Semarang juga menjadi bagian masyarakat terdampak atas kebijakan pencegahan Covid, di antaranya tidak leluasa berkegiatan di kampus karena harus selalu menghindari kerumunan .

Agar tidak terbelenggu, sebagai mahasiswa yang sedang mendalami ilmu komunikasi aku dan beberapa teman mencoba berinovasi menumbuhkan percaya diri di tengah kegelisahan masyarakat.

Kebetulan saat berselancar di dunia maya kutemukan informasi kegiatan pemilihan Denok dan Kenang Semarang yang diselenggarakan Pemkot Semarang.

Dengan bekal nekat dan tekat untuk mengukur kemampuan diri aku bersama tiga teman teriri Arlia Izza Karmila, Aufa lonoskosy,Fazhilla Aulia Fernenda dan Okinawa Fauziah  mahasiswa semester dua mengikuti agenda itu sebagai representasi perwakilan kampus STIKOM Semarang.

Sedikit cerita tentang aku dan tiga kawanku yang mengikuti audisi Denok Kenang Kota Semarang 2021 yang digelar beberapa waktu lalu, kami berempat mewakili perguruan tinggi STIKOM Semarang.

Denok dan Kenang merupakan sebutan khas bagi putra dan putri Semarang, yang juga dipakai untuk nama kampus tempat kami mengais ilmu. Jadi audisi Denok – Kenang ini adalah pemilihan putra dan putri Semarang yang akan dipilih untuk mengikuti audisi di tingkat provinsi dan nasional.

Keikutsertaan kami bukan dilatarbelakangi ambisi ingin menang, tapi semata ingin menambah pengalaman dan memperkaya relasi . Proses menuju audisi kami lalui dengan senang hati. Mulai dari tata cara pendaftaran, ketentuan pakaian, tes tertulis secara online, sampai tes catwalk dan wawancara secara offline.

Dari semua rangkaian proses yang kami lalui itu, kami bersyukur  karena memperoleh  pengalaman berharga, setidaknya bagi kami berempat, walau pada akhirnya belum berhasil meraih kemenangan.

Salah satu kesan yang kami dapat, para remaja di Kota Semarang sangat antusias dalam mengikuti ajang pencarian Denok dan Kenang ini. Tercatat lebih 200 orang peserta dari perguruan tinggi dan SMA/SMK berkompetisi di ajang ini.

Kompetisi semakin seru ketika di antara peserta ada yang datang dari luar Kota Semarang tetapi dengan syarat membawa surat keterangan domisili yang sudah di tandatangani oleh Ketua RT dan RW setempat.

Kami sempat termenung saat mengikuti  tes yang digelar secara online, soal yang disajikan cukup membuat kami terperangah sebelum memberikan jawaban apa yang paling tepat untuk menjawab soal tersebut.

Disitulah kita dituntut mengetahui berbagai informasi tentang Kota Semarang. Mulai dari sejarah, tempat wisata, makanan khas, dan lain sebagainya. Walaupun hasil tes kami berempat belum begitu baik, namun kami masih punya kesempatan pada tes wawancara offline dan catwalk.

Saat hari H datang, kami datang  ke gedung Oudetrap di kawasan Kota Lama, tapi kali ini aku hanya bertiga saja. Karena audisi dibagi menjadi 5 sesi yang waktunya berbeda dan berjarak lumayan lama. Ketika kami datang, langsung melakukan registrasi dan pengukuran tinggi badan tanpa high heels. Setelah itu barulah kami menunggu giliran untuk naik ke panggung dan penilaian catwalk.

Setalah tes catwalk, selanjutnya ada tes wawancara secara offline atau face to face dengan juri yang notabene adalah para pegiat kepariwisataan. Ada tiga pertanyaan dengan masing masing tiga juri yang berbeda. Lampiran pertanyaan dikemas dalam sebuah map dan peserta  diberi waktu untuk memahami soal yang diberikan, lalu setelah itu bell dibunyikan dan kami semua mulai menjawab satu pertanyaan dari juri.

Ternyata hampir semua pertanyaan yang diajukan menyangkut atau membahas tentang pembangunan pariwisata dan rencana pembangunan di Kota Semarang. Waktu yang diberikan cukup panjang yaitu tiga menit dan masih diberi tambahan waktu lagi jika bell dibunyikan sebanyak du kali.

Setelah itu jika juri berkata “selesai” maka kita  harus menghentikan aktifitas menjawab pertanyaan. Seperti tes sebelumnya yaitu tes catwalk yang disitu juri memberikan penilaian  bagaimana cara menjawab apakah gugup atau tidak, gelisah atau tidak, lalu cara berjalannya apakah dia seseorang yang percaya diri atau sedang grogi. Semuanya dinilai secara detail demi mendapatkan finalis yang terbaik.

Dari sekian 200 lebih peserta audisi dipilih 15 orang sebagai finalis dan dikarantina untuk  diseleksi lagi hingga menyisakan enam orang untuk ditetapkan menjadi pemenang pertama , kedua dan ketiga Denok dan Kenang Semarang.

Ya, dinobatkan sebagai tiga pasang Denok dan Kenang Semarang adalah sesuatu yang membanggakan dan menyenangkan, kesempatan untuk menjadi pendamping turis yang berkunjung ke tempat-tempat wisata di ibu kota Jateng sungguh menyenangkan.

Pengalaman penting yang didapat dari perhelatan ini ternyata belajar berkomunikasi dengan baik itu penting, maka kami kuliah di STIKOM Semarang.

                    (Arlia Izza Karmila Mahasiswa Semester II/2021  STIKOM Semarang)

* Artikel ini telah dibaca 31 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *