Home > EDITOR'S CHOICE > Polemik Pemberitaan Pernikahan Akbar Atta-Aurel

Polemik Pemberitaan Pernikahan Akbar Atta-Aurel

                                                            Oleh: Retno Cahyaningrum

Belum lama ini, berbagai media ramai memberitakan pernikahan akbar Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah di tengah masa pandemi. Bahkan, salah satu stasiun TV pun melakukan siaran langsung pertunangan dan pernikahan mereka hingga mengundang perhatian Komisi Penyiaran Indonesia(KPI) yang akhirnya berbuntut panggilan kepada pengelola TV swasta itu atas siaran langsung pernikahan Atta dan Aurel. Pemanggilan KPI ini adalah bentuk respons atas aduan dari masyarakat.

Kode Etik Dipertaruhkan

KPI menemukan bukti tayangan yang beredar di media sosial dan terbukti melanggar UU Pasal 36 serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS). Frekuensi siaran adalah barang publik yang dikuasi negara. Maka pihak yang mendapat izin menggunakan frekuensi itu harus menempatkan kepentingan masyarakat sebesar-besarnya.

Kode etik jurnalistik seringkali terabaikan. Hanya demi keuntungan dan rating semata, media seringkali lupa bahwa sebenarnya harus tunduk pada kode etik. Pemberitaan Atta-Aurel menjadi bukti bahwa media kini tengah mengalami gejala memitisme.

Memitisme merupakan gairah yang menghinggapi media untuk bergegas meliput kejadian karena seolah berita itu sangat urgen. Berbnagai media di Indonesia seolah sedang berlomba-lomba menyajikan berita Atta-Aurel demi kebutuhan rating.

Dalam kasus ini, media menjual isu selebritas untuk mendapatkan keuntungan atau disebut dengan komodifikasi. Kita semua tahu bahwa Atta adalah seorang Youtubers top di Indonesia dengan banyak followers. Media memanfaatkan Atta dan followers-nya untuk mendapatkan rating tinggi.

Unsur Edukasi

KPI menekankan lembaga penyiaran harus memberi informasi dan edukasi, selain hiburan. Terkait tayangan pernikahan Atta-Aurel, KPI menilai tidak ada unsur edukasi dari acara berdurasi 3 jam itu.

Tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat senang mengikuti kehidupan artis. Namun tetap saja suatu tayangan harus memiliki fungsi edukasi untuk publik. Dalam penayangan kehidupan privasi artis, tentu juga harus ada kemanfaatan dari tayangan untuk publik khususnya edukasi.

Standar Program Siaran pasal 13 ayat 2 menyatakan bahwa program siaran tentang permasalahan kehidupan pribadi tidak boleh menjadi materi yang ditampilkan dan/atau disajikan dalam isi mata acara, kecuali demi kepentingan publik.

Tenggelamnya Berita Penting

Ramainya berita pernikahan Atta-Aurel menenggelamkan berita-berita penting yang terjadi di waktu bersamaan. Peringatan dari BMKG terkait siklon tropis NTT dikeluarkan pada 3 April 2021. Namun berita tersebut tertutup oleh berita pernikahan Atta-Aurel.

Pada hari berikutnya, 4 April 2021, berita tentang siklon bahkan hampir hilang. Media masih fokus pada isu “Jokowi dan Pernikahan Atta-Aurel”. Ramainya pemberitaan oleh media tentang kehadiran Jokowi dalam pernikahan Atta-Aurel sangat besar. Media seolah tidak mendengar adanya peringatan dari BMKG. Mereka terlalu fokus pada berita pernikahan akbar.

Bahkan tidak sedikit masyarakat dan tokoh papan atas yang geram. Mereka mengungkapkan kekecewaan terhadap media yang terkesan berlebihan mengekspos pernikahan Atta-Aurel. Sampai-sampai mengabaikan berita penting tentang bencana alam di NTT.

Cara berpikir pemerintah dinilai aneh dan berlebihan dalam menyikapi acara pernikahan Atta-Aurel. Pasalnya, agenda pernikahan Atta-Aurel itu di-publish oleh akun sosial media resmi Sekretariat Negara, layaknya sebuah agenda penting kenegaraan.

Banyak netizen yang menyayangkan kejadian ini. Terlebih di masa pandemi sekarang ini, seharusnya media lebih banyak memberikan informasi edukasi terkait pandemi. Pemberitaan terkait bencana alam di NTT juga sudah semestinya lebih diutamakan.

Semestinya semua kejadian ini menjadi refleksi bagi media untuk terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas berita atau siarannya. Ke depan, semoga media di Indonesia dapat lebih bijak memilih konten yang lebih penting dan membawa kemanfaaan untuk publik.

(Retno Cahyaningrum Mahasiswi Udinus Semarang)

* Artikel ini telah dibaca 241 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *