Home > EDITOR'S CHOICE > Berempati Pada Syuhada Nanggala 402

Berempati Pada Syuhada Nanggala 402

                                                              Oleh: Gunawan Witjaksana 

KRI Nanggala 402 yang hilang kontak sejak Rabu dini hari akhirnya ditemukan. Dengan bantuan beberapa negara serta KRI Rigel, KRI Nanggala 402 yang patah menjadi tiga bagian diketemukan di kedalaman 838 meter. Ke 53 awak kapalnya pun dinyatakan gugur dalam tugas latihan perang penembakan turpedo.

Musibah tentu tidak ada yang tahu. Apa pun nanti kesimpulan yang menjadi penyebabnya, kita tetap harus berempati. KRI Nanggala 402 yang selama ini bahkan memperoleh julukan sebagai monster laut, dengan 53 awaknya yang selama ini menjaga teritorial laut kita tanpa kenal takut dan lelah, memang  telah tiba waktunya untuk beristirahat.

Kita seluruh anak bangsa yang selama ini bangga padanya, tidak perlu saling mencari kambing hitam, terlebih saling menyalahkan.

KRI Nanggala 402 yang selama tugas dan perannya minim publikasi tersebut sudah sangatlah besar jasanya.

Yang perlu kita bersama lakukan adalah beremphati total, utamanya kepada ke 53 Syuhada Laut, beserta masa depan keluarga yang ditinggalkannya.

Meski sebagai istri dan putra- putri prajurit, mereka sangat faham beratnya tugas serta resiko yang diemban suami- suami serta ayah- ayah mereka, namun tetap saja rasa emphati perlu kita curahkan sepenuhnya kepada mereka semuanya.

Komunikasi, Emphati dan Nasionalisme

Bagaimana pun para keluarga 53 Syuhada Laut itu perlu kita ajak selalu berkomunikasi emphatik. Keluarga para pejuang bangsa tersebut harus selalu merasa tetap berada dalam satu korp keluarga besar pejuang yang penuh nuansa nasionalisme serta jiwa kejuangan yang selama ini diejawantahkan oleh para suami serta ayah- ayah mereka.

Dengan nuansa serta cara seperti itu, maka mereka tetap akan merasa selalu dihargai sekaligus bangga.

Kebanggaan yang seakan tertanam dalam hati sanubari mereka yang tentu saja cocok dengan slogan kebanggaan keluarga besarnya ” Jales veva jaya Mahe”.

Makin Bangga

Kita lalu ingat akan janji Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahwa ke depan angkatan laut kita harus kembali menjadi kebanggaan seperti jaman keemasan kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.

Untuk itulah perencanaan serta pengadaan alat utama sistem pertahanan laut haruslah betul- betul memadai, dan angkatan laut kita menjadi angkatan laut yang membanggakan, termasuk bagi ke 53 Syuhada Laut beserta syuhada lainnya yang telah mendahuluinya beserta seluruh keluarga besar yang telah mereka tinggalkan.

Akhirnya sebagai negara yang di tempo dulu memiliki kebanggaan dengan penyebutan bahwa nenek moyangnya adalah pelaut, akan kembali bangga ketika angkatan laut kita kuat dan jaya kembali dengan menjaga Nusantara kita tercinta, sekaligus mampu menjaga keseimbangan serta keamanan kawasan ketetanggaan, dengan penuh kedamaian serta kerja sama yang harmonis sekaligus simbiosis mutualistis.

* Artikel ini telah dibaca 25 kali.
Gunawan Witjaksana
Dosen dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang. Pengamat komunikasi dan media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *