Home > HEADLINE > Kota Semarang Jadi Percontohan Model Kasus Stunting

Kota Semarang Jadi Percontohan Model Kasus Stunting

SEMARANG[Kampusnesia] – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menjadikan Kota Semarang sebagai model percontohan program Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak (KRPPA).

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), I Gusti Ayu Bintang Puspayoga menyebutkan pada 2022 mendatang akan ada 122 model KRPPA di seluruh Indonesia.

Kelurahan Tanjung Mas, lanjutnya, di Kecamatan Semarang Utara dan Kelurahan Petompon di Kecamatan Gajahmungkur dipilih untuk dijadikan percontohan.

Menurutnya, masih banyaknya kasus stunting hingga pernikahan dini di tingkat kelurahan inilah yang menjadi sorotan KemenPPPA untuk melakukan pendampingan agar kasus stunting hingga pernikahan dini di Kelurahan tersebut bisa zero.

“Kami melakukan pendampingan di Semarang untuk mewujudkan desa ramah perempuan dan peduli anak dan di Semarang ini jadi yang pertama kali, karena indikatornya kita mulai percontohan di Semarang,” ujarnya saat menghadiri Penandatanganan Komitmen Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak (KRPPA) di wilayah Kelurahan Tanjung Mas, Semarang Utara, Senin (8/11).

Bintang juga mengapresiasi Wali Kota Semarang dalam mengatasi kasus stunting di Kota Semarang sehingga angkanya terus menurun.

“Kita akan berikan pendampingan karena kalau kita melihat di kelurahan Tanjung mas ini perkawinan usia dini masih tinggi, stunting tinggi, lalu perempuan sebagai kepala keluarga ini bisa berdaya dan ini yang akan dilakukan pendampingan,” tuturnya.

Selain KRPPPA,  tutur Bintang, Kota Semarang juga akan dijadikan pilot project untuk pembuatan dapur sehat yang juga menggandeng BKKBN.

“Untuk dapur sehat ini kita menggalakkan pengelolaan pangan lokal untuk pemenuhan gizi anak dan Semarang ini jadi pilot proyek, nantinya sampel kita mulai dari kota Semarang,” ujarnya.

Sementara itu, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi menuturkan angka stunting di Kota Semarang saat ini sudah mengalami penurunan, karena sudah ada tim khusus yang memantau kasus stunting di tiap wilayah, misalnya memantau ibu hamil lalu juga ada pemberian PMT oleh PKK.

“Jumlah anak stunting di Kota Semarang 2.200 anak dari 1,7 juta jiwa dan yang tertinggi di Kelurahan Tanjung Mas ada 79 anak, tapi angka ini sudah menurun karena kita juga punya pendampingan,” tuturnya. (rs)

* Artikel ini telah dibaca 51 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *